Home » Artikel Wisata » Warisan Tenun Tertua

Warisan Tenun Tertua

Tuesday, December 9th 2014. | Artikel Wisata

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA

Oleh: Mawar Kusuma & Dwi As Setianingsih

TENUN khas Toraja kini hanya bisa dijumpai di pelosok pedesaan terpencil dan terisolasi akibat buruknya infrastruktur jalan. Keterisolasian itu pula yang sekaligus menjadi benteng otentisitas tenun asli Toraja dari gempuran pengaruh modernitas.

Buku Keiko Kusakabe, Textile from Sulawesi in Indonesia, Genealogy of Sacred Cloth (2006), menyebut teknik tenun tertua di dunia masih bisa dijumpai di Toraja Mamasa. Dari catatan Kusakabe, peneliti Jepang yang pernah meneliti tenun Toraja selama lebih dari 10 tahun, Mamasa menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang masih menggunakan teknik tertua di zaman modern, yaitu tenun kartu.

Di teras belakang rumah yang menghadap Sungai Mamasa di Dusun Bata, Desa Balla, Kecamatan Balla, Rachel (32) atau Mama Iin adalah salah satu penenun yang menguasai teknik tenun kartu yang dalam istilah lokal dikenal dengan nama pallawa’, artinya kartu. Selain tua, teknik kartu juga memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Dulu, jumlah kartu yang dipakai bisa mencapai ratusan. ”Kartu yang digunakan biasanya berkisar antara 18-30 buah. Yang 18 menghasilkan pallawa’ selebar 2 cm, sementara dengan 30 kartu menghasilkan pallawa’ selebar 5 cm,” tutur Rachel.

Kartu-kartu yang dulunya terbuat dari tanduk kerbau itu kini dibuat dari kayu hitam dengan ukuran tidak lebih dari 2 x 2 cm. Terdapat lubang di setiap sisi kartu. Setiap lubang diisi dengan tiga benang. Benang-benang itulah yang kemudian ditenun oleh jari-jari Rachel yang menari dengan lincah di sela-sela benang yang berjumlah 216 helai. Diperlukan konsentrasi tinggi saat tangan dengan cepat membolak-balik kartu sambil menghitung benang.

Motif tenun yang dihasilkan melalui teknik pallawa’ cukup banyak. Rachel menyebutkan, setidaknya terdapat puluhan motif untuk teknik pallawa’. Namun, dia mengakui, tidak semua motif dia kuasai. ”Setiap kali menenun, motifnya sudah ada di kepala. Tidak perlu digambar, langsung saja ditenun,” kata Rachel.

Tingkat kesulitan yang tinggi membuat teknik ini hanya dikuasai sedikit penenun. ”Tidak ada yang mau belajar karena memang sulit,” ujar Rachel yang menjadi Ketua Kelompok Petenun Tampak Teteh Mamasa.

Rachel yang belajar teknik pallawa’ dari sang nenek masih mempraktikkan teknik tersebut karena ada sejumlah pesanan. Kali ini, ia sedang mengerjakan pesanan 50 meter pallawa’ dengan harga per meter berkisar Rp 18.000-Rp 30.000. Dalam sehari, Rachel hanya mampu membuat 2-2,5 meter pallawa’. Apabila tidak ada pesanan, Rachel memilih menenun dengan teknik lain yang tidak memakan waktu.

Pallawa’ umumnya digunakan sebagai lis ban untuk kain tenun yang dijahit menjadi baju. Belakangan, sejumlah penjahit di Mamasa mulai menerima banyak pesanan untuk produk jadi dengan pallawa’. Pallawa’ umumnya juga digunakan sebagai tali tas perempuan Mamasa yang disebut sepu’.

Bergantung pasar

Selain pallawa’, di Mamasa juga masih terdapat penenun yang menggunakan teknik kepang yang disebut mangka’bi. Menenun dengan teknik mangka’bi atau mencolek ini biasanya dilakukan dengan bantuan satu orang tambahan. Ujung benang dikaitkan di bagian perut orang lain ketika penenun mulai menenun mangka’bi.

Nenek Atti (80) adalah salah satu penenun yang masih menguasai teknik mangka’bi. Dengan bantuan seorang temannya, ia memanfaatkan jempol kaki untuk menyusun benang. Seluruh jari tangannya memegang benang, tiga benang di tiga jari tengah, sedangkan satu benang bergantian dicolek dari jari kelingking ke jari jempol. ”Jarang bikin ini, banyak yang malas belajar karena sulit,” kata Nenek Atti.

Tenun dengan teknik mangka’bi biasanya digunakan untuk bagian pinggir sepu’. Benang yang digunakan umumnya berupa benang wol. Teknik ini hampir serupa dengan teknik mengepang rambut. Sayangnya, saat ini teknik ini ditinggalkan karena tidak ada lagi pesanan. Banyak sepu’ yang dibuat tanpa menyertakan lagi mangka’bi. Demi alasan kepraktisan, baik mangka’bi maupun pallawa’ diganti dengan produk jadi dari Tiongkok yang kini semakin mudah ditemukan di pasaran.

Salah satu teknik langka yang juga masih dilakukan di Mamasa adalah masusui, yang umumnya diaplikasikan dalam pembuatan sepu’. Teknik ini dilakukan dengan terlebih dahulu meletakkan alat berbentuk serupa buah dada perempuan yang terbuat dari kayu hitam di balik kain, yang di bagian atasnya kemudian ditindis dengan jarum.

Tingginya tingkat kesulitan yang tidak sepadan dengan harga jual membuat sebagian motif tenun menghilang dari sentra tenun Sa’dan To’barana, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Tetty Rantelabi (46) atau Mama Sabbi menjadi satu dari segelintir orang yang masih menguasai motif langka, seperti matapa’.

Motif matapa’ ini mirip dengan anyaman tikar dengan dua warna bergantian. Dari sejak pertama kali memasukkan benang pakan (benang horizontal), penenun harus fokus menghitung setiap benang. Untuk selembar tenun matapa’ lebar 55 cm panjang 3,5 meter dibutuhkan waktu dua pekan dengan harga hanya Rp 250.000. ”Enggak ada lagi yang bikin,” kata Mama Sabbi.

Di Sa’dan, motif lain yang tergolong sulit seperti paruki’ masih dihidupi oleh perajin karena harga jualnya yang tinggi. Motif paruki’ dibuat dengan menenun di atas tenunan sehingga memunculkan corak seperti anyaman. Aksen yang ditonjolkan biasanya berupa ukiran manik-manik seperti yang biasa dipakai sebagai perhiasan perempuan Toraja.

Penenun di Sa’dan Matallo, Meri Pagappong (42), membutuhkan waktu dua pekan untuk memproduksi selembar tenun dengan lebar 65 cm dan panjang 4 meter. Usaha yang dikerahkannya cukup sepadan karena tenun paruki bisa dijual hingga Rp 1,5 juta. Hanya sepertiga dari harga jual yang digunakan untuk membeli bahan baku benang. Saking tingginya minat, konsumen harus antre berbulan-bulan sebelum pesanan tenun paruki’ tiba di tangan.

Modifikasi kreatif

Demi memenuhi selera pasar pula, penenun harus ekstra kreatif. Belakangan, petenun Mamasa justru mengembangkan teknik baru yang disebut dengan kariri. Kariri adalah teknik penggunaan tiga benang dalam satu lubang yang menghasilkan motif baru yang jauh lebih kaya. Usia teknik ini belum terlalu lama, setidaknya baru diaplikasikan dalam satu tahun terakhir, tetapi sangat digemari.

Dengan berkreasi, menurut penenun dari Mamasa, Mama Eben (30), pemasaran tenun bagi warga lokal menjadi semakin mudah. Saking banyaknya permintaan, tenun buatan Mama Eben selalu ludes terjual dan ia pun kini hanya membuat tenun berdasarkan pesanan. Salah satu kreasi tenun buatannya bermotif zig zag.

Pemilik butik Toraja Melo, Dinny Jusuf, yang banyak memasarkan tenun asli Toraja di Jakarta juga mencoba mendongkrak kreativitas penenun agar bisa menyesuaikan diri dengan selera pasar urban Jakarta. Toraja Melo sempat melatih 250 perajin di Sa’dan untuk membagi tentang warna tenun yang disukai pasar.

Dari awalnya hanya mengenal warna merah, hitam, putih, dan kuning, perajin berkenalan dengan warna-warna cantik, seperti merah hati atau coklat. ”Kita mendesain apa yang disukai pasar. Dulu, pewarna alam mereka hanya dari batuan, tanah liat, dan jelaga yang warnanya itu-itu saja. Saya bermimpi membawa tenun Toraja untuk something wearable,” tambah Dinny.

Bupati Mamasa Ramlan Badawi juga membuka pintu bagi kreativitas warga. Ia berharap tenun Mamasa bisa dibuat menjadi lebih tipis sehingga cocok dipakai di dataran rendah yang panas. Demi perkembangan tenun pula, Pemerintah Kabupaten Mamasa membuat koperasi, menggelontorkan dana sekitar Rp 500 juta per tahun bagi penenun, dan mewajibkan pegawai negeri sipil memakai tenun asli Mamasa pada setiap hari Sabtu.

Menurut Ramlan, saat ini masih terdapat lebih dari 1.000 penenun yang tersebar di 17 kecamatan di Mamasa. Sebanyak 40 persen dari warga di total 178 desa juga masih punya keahlian menenun. Kendala utama pemasaran tenun-tenun cantik Mamasa ini terletak pada buruknya infrastruktur jalan. Regenerasi penenun juga tidak berjalan lancar. Anak muda lebih suka merantau dibandingkan menenun di desa-desa terpencil.

Jika pasar lokal lebih menyukai tenun modifikasi, kolektor kain dari Amerika, Jepang, dan Australia justru memburu tenun-tenun tua Toraja yang kini tak lagi diproduksi. Tak jarang, pemandu wisata di obyek-obyek wisata Toraja terang-terangan menawarkan tenun tua kepada wisatawan. ”Koleksi tenun terbaik kita justru lari ke kolektor di Tokyo, Canbbera, dan New York. Banyak yang bisa menenun, tetapi tidak semua bisa menenun dengan teknik yang baik,” ungkap Dinny. (SF)

Sumber: travel.kompas.com

Keywords: Paket Wisata Makassar, Paket Wisata Toraja, Toraja Tour, Tour Toraja, Tour Makassar, Tana Toraja, Paket Kunjungan Kerja Makassar, Kunjungan Kerja Makassar, Tongkonan Toraja, Museum Ne’ Gandeng, Pallawa, Batutumonga, Pantai Losari, Bori, Ranteallo, Kete Kesu, Malino, Maros.

Related For Warisan Tenun Tertua

Comment For Warisan Tenun Tertua